06 March 2016

Kecopetan (termasuk paspor) di Phnom Penh, Kamboja (ataupun negara lain) - apa yang perlu dilakukan?


Pertengahan Februari yang lalu saya mengalami kemalangan di negara tetangga, Kamboja. Saya ke Phnom Penh untuk wisata. Pesawat Air Asia berangkat dari Jakarta, via Kuala Lumpur, dan tiba di Bandara Internasional Phnom Penh pukul 4 sore. 

Dari Bandara menuju hotel saya naik tuk-tuk, transportasi umum di kota tersebut yang dikenal murah. Bentuknya seperti delman di Indonesia, tetapi tidak ditarik oleh kuda, melainkan oleh motor. 

Kira-kira setengah jam perjalanan dari bandara, tiba-tiba motor mendekati tuk-tuk saya dari sebelah kiri dan penumpang motor mengambil tas di pangkuan saya. Saya kaget sekali dan berusaha memegang tali tas, namun lelaki bercelana jins di bagian belakang motor tersebut lebih sigap menarik tas saya. Dia tidak mengenakan helm dan sempat melemparkan senyuman senang kepada saya. Saya ingin sekali melompat pada saat itu, melompat untuk mengambil kembali tas saya. Motor tersebut mengebut kencang meninggalkan tuk-tuk saya. 

Badan saya langsung lemas... semua barang kritikal ada di dalam tas tersebut. Dompet beserta uang, beberapa kartu bank, dan kartu identitas Indonesia (KTP). Telepon seluler... kunci apartemen... dan yang paling penting, paspor. 

Untuk beberapa jam kemudian, saya merasakan hampa tanpa adanya barang-barang kritikal tersebut. Panik, bingung....

Begitulah kisah kecopetan atau penjambretannya. Berikut adalah hal-hal yang saya pelajari dari mengalami sendiri melakukan langkah demi langkah pasca kejadian malang tersebut dan hasil refleksi untuk bagaimana sebaiknya menyikapi kejadian tersebut di negeri asing. 

1. Baca plat nomor motor pencuri. Saya tidak ingat sama sekali untuk melakukan hal ini. Padahal, mungkin informasi tersebut akan membantu aparat polisi lokal karena pencopetan oleh pengendara motor seperti itu ternyata sedang marak di Phnom Penh. 

2. Segera aktifkan "find my Iphone" jika iPhone ada di dalam tas yang dicopet. Saya tidak melakukan hal ini karena tidak ada akses internet pada saat kejadian. Hal ini bisa membantu melihat arah gerak pencuri, sebelum iPhone dimatikan. 

3. Laporkan ke kantor polisi terdekat. Saya melakukan ini, namun sangat kesulitan menjelaskan rincian kejadian karena tidak bisa berbahasa Khmer (bahasa lokal) dan polisi tidak bisa Bahasa Inggris. Awalnya saya meminta tolong supir tuk-tuk untuk membantu, tetapi dia pun kesulitan. Setelah cukup lama barulah saya teringat untuk pinjam telepon guna menghubungi hotel tempat saya menginap supaya mereka membantu menterjemahkan via telepon. 

4. Telepon bank-bank terkait untuk melakukan pemblokiran kartu kredit dan kartu debit yang turut dicopet. 

5. Segera lapor ke Kedutaan negara asal untuk mengurus dokumen perjalanan pengganti paspor (SPLP = Surat Perjalanan Laksana Paspor). Saya ke Kedutaan Indonesia*. Bentuk dokumen ini seperti buku paspor hijau, tetapi lebih sederhana, lebih tipis, data berupa tulisan tangan, ditempel pas foto, dan ada pengesahan dengan tanda tangan Konselor dari Kedutaan pemberi.  

Keesokan hari setelah kecopetan, pagi-pagi jam 9 saya segera tiba di Kedutaan. Rasanya lega sekali bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dan menjelaskan kemalangan saya. Saya mengisi formulir dan harus menempelkan pas foto ukuran 4x6. Akan lebih ringkas jika sebelum melapor ke Kedutaan, buat pas foto terlebih dahulu, daripada bolak-balik. 

*Kedutaan Indonesia di Phnom Penh sangat membantu saya. Pak Iqwan, Pak Nelson (Konselor), dan Pak Chanta, terima kasih banyak. Mereka mendengarkan kisah kemalangan saya, ber-simpati, dan memproses dokumen-dokumen dengan sigap dan efisien. Kala itu saya sangat sedih dan stres karena belum pernah kecopetan sebelumnya, saya minta tolong supaya ditemani ke kantor imigrasi karena takut proses akan diperlambat. Kedutaan membantu mengantarkan untuk menterjemahkan Khmer-Bahasa Indonesia kala diperlukan dan juga menjelaskan kemalangan saya. 

6. Ke kantor imigrasi untuk mendapatkan exit visa** pada dokumen perjalanan pengganti paspor. Prosedur ini mungkin berbeda di tiap negara. Untuk Kamboja, informasi yang saya terima adalah hal ini wajib untuk diperoleh supaya bisa lolos di imigrasi di bandara Phnom Penh. 

**biaya-nya cukup mahal yakni US$ 40. Saya kecopetan seluruh uang dan kartu Bank saya. Untungnya, ada teman yang bisa saya hubungi untuk mendapatkan uang tersebut. Proses exit visa ini antara 1-3 hari. Tampaknya, wajah staf Kedutaan memungkinkan saya mendapatkan dalam 1 x 24 jam, syukurlah. 

7. Jika langkah 3, 4, dan 5 di atas dapat selesai sebelum tanggal kepulangan, maka tidak perlu melakukan penundaan kepulangan ataupun pembelian tiket baru. Saya beruntung karena proses pengurusan paspor hilang dapat dilakukan di hari Kamis dan Jumat saat Kedutaan dan Kantor Imigrasi masih buka.

8. Setibanya di Indonesia/negara asal, segera sempatkan ke kantor polisi setempat untuk membuat berita acara kehilangan dalam bahasa Indonesia. Saya melakukan ini di Polda Metro Jaya. Buka 24 jam. Kala itu hari Minggu jam 5 sore. Tidak ada antrean panjang dan saya dilayani dengan sangat baik dan penuh simpati. Tidak dipungut biaya. 

9. Berikutnya, jika KTP turut hilang, segera datangi kantor kelurahan asal untuk membuat KTP baru. Dalam proses ini diperlukan surat kehilangan dari kantor polisi. 

10. Lalu, sama pentingnya dengan KTP, segera kunjungi kantor Imigrasi terdekat untuk melaporkan kehilangan paspor dan membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang merupakan langkah resmi untuk kasus kehilangan paspor. Siapkan semua dokumen pendukung kehilangan (lihat website kantor imigrasi) dan juga rencana keberangkatan ke luar negeri berikutnya (tiket, booking hotel, surat undangan) jika ada. Tentunya, dokumen perjalanan pengganti paspor yang diberikan di Kedutaan Indonesia di Phnom Penh sangat berguna dalam kasus saya. Surat kehilangan dari kantor polisi juga wajib disampaikan. Penting untuk dipahami bahwa kehilangan paspor termasuk situasi yang melanggar aturan negara dan sebaiknya pelapor bersikap sopan dan menyesal dengan kehilangan tersebut pada saat membuat BAP. 

Puji Tuhan, setelah 3 hari kerja, permohonan pembuatan paspor saya disetujui oleh kepala kantor imigrasi. Karena KTP saya turut hilang dan baru bisa selesai 2 minggu kemudian, saya diizinkan untuk memproses paspor baru dengan menunjukkan resi pembuatan KTP. 

11. Kunjungi kantor cabang bank-bank terkait untuk melaporkan dan memproses pembaruan kartu-kartu debit yang hilang. 

12. Ingat-ingat kartu-kartu apa lagi yang ada di tas yang dicopet. Lalu, urus kehilangannya di kantor-kantor terkait. Memang melelahkan, keluar masuk kantor demi kantor, antri sana sini. Namun, demikianlah konsekuensi kehilangan/kecopetan.

Beberapa tips yang akan saya terapkan untuk perjalanan berikutnya:

A. Pegang kuat-kuat barang bawaan, jauhkan dari kemungkinan dirampas orang ataupun kendaraan yang lewat. 

B. Pisahkan beberapa barang kritikal, jangan ditaruh di dalam satu tas. Saya teringat ada tas pinggang yang bisa direkatkan ke badan, dibalik baju. Mungkin saya akan memasukkan paspor dan dokumen identitas lainnya di dalam tas tersebut untuk meminimalisasi kehilangan. 

C. Saya cukup beruntung saat ke Phnom Penh saya membawa foto kopi paspor di dalam folder naskah-naskah bacaan saya. Foto kopi tersebut membantu proses pengurusan kehilangan saat di Kedutaan. 

D. Simpan nomor-nomor telepon penting di buku catatan ataupun di sent items e-mail. Saya tidak melakukan hal ini dan alhasil saya tidak dapat menelepon atau SMS orang-orang terdekat saya karena handphone saya turut dicopet. Semua nomor-nomor penting itu disimpan di handphone.

Semoga catatan ini bisa bermanfaat untuk orang lain dan semoga perjalanan kita selanjutnya dihindarkan dari kemalangan semacam ini. 

28 February 2016

Taksi Perlu Berbenah

Siang ini (Minggu, 28 Feb 2016) saya dengan dua orang teman baik saya berangkat dari lokasi tempat tinggal menuju ke sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Awalnya ingin naik angkutan umum berbasis aplikasi, namun tidak banyak mobil tersedia dan estimasi waktu ketibaan cukup lama. Jadi, kami naik taksi reguler dari area tempat tinggal kami. 

Kami termasuk sering naik taksi untuk bepergian di dalam kota Jakarta. 

Begitu taksi mulai bergerak, saya sudah kurang nyaman dengan gerak resah dan komentar-komentar dari Bapak supir. Bapak supir juga menyampaikan bahwa pada hari Senin, 29 Februari 2016, para supir taksi di Jakarta akan melakukan mogok bersama untuk menunjukkan rasa tidak suka mereka pada angkutan umum berbasis aplikasi. Saya sangat ingin mengetahui lebih banyak, tetapi saya merasa tidak nyaman untuk berbicara panjang lebar dengan Bapak supir taksi tersebut.

Tidak lama kemudian, Bapak supir menepi di tempat pengisian bahan bakar (SPBU). Bapak supir hanya mengatakan bahwa dia perlu isi bahan bakar persis saat akan berbelok masuk ke SPBU. Lalu yang mengejutkan saya adalah bukannya dia turun dari taksi untuk melakukan transaksi, tetapi dia mengulurkan tangannya dengan uang 100 ribu rupiah, melewati badan saya yang saat itu duduk di kursi penumpang depan. Dia minta tolong saya bukakan pintu saya, sedikit berteriak memanggil petugas SPBU dan meminta saya untuk menyerahkan 100 ribu rupiah tersebut kepada petugas SPBU. Saya kesal sekali dengan tindakannya, tetapi saya urungkan niat untuk menegur dia karena saya khawatir dia akan berlaku lebih kasar selama perjalanan. 

Saya siapkan Twitter keluhan kepada perusahaan taksi tersebut dengan mengikutkan nomor kode mobilnya. 

Ketika sampai di lokasi pusat perbelanjaan yang dituju, argo menunjukkan Rp 48,500. Saya berikan uang Rp 50,000 dan bergegas turun. Begitu kami bertiga turun dari taksi, Bapak supir menekan pedal gas dengan cukup kencang sehingga deru mobil terdengar jelas, seperti orang yang melaju dengan rasa kesal/marah.

Saya berbincang dengan kedua teman saya -- jelas saja ada pergerakan natural dari pengguna taksi reguler ke angkutan umum berbasi aplikasi. Dari pengalaman saya menggunakan angkutan umum berbasis aplikasi, yakni sekitar 10 kali dalam sebulan, saya belum pernah mendapat perlakukan tidak sopan seperti taksi reguler hari ini. 

Saya lalu mengirimkan Twitter keluhan yang sudah saya draft sejak di dalam taksi.

Saya rasa para taksi reguler perlu bergegas membenahi diri. Angkutan umum berbasis aplikasi lebih murah sekitar 20 - 30% daripada taksi reguler. Supir berperilaku dan bertutur kata lebih sopan. Hanya satu kali saya mengalami supir berbasis aplikasi dengan bau badan tidak sedap, sedangkan di taksi reguler saya seringkali pasrah dengan aroma tidak sedap...

PS: keluhan Twitter saya dibalas oleh pengelola taksi reguler tersebut, tetapi ya balasan standar yang mengatakan bahwa keluhan diterima dan mohon maaf. Saya juga bertanya via Twitter kepada dua perusahaan taksi reguler terkait rencana mogok taksi 29 Februari 2016, keduanya tidak membalas. 

28 November 2015

Untitled...


The following sentences are taken from Brida, a novel by Paulo Coelho. I remember that when I read it, I thought about how painful and beautiful the feelings that Brida goes through. I imagined how one's heart could contain such intense and contradictory emotions. I have learned that it can. 

That is what the forest taught me. That you will never be mine, and that is why I will never lose you. You were my hope during my days of loneliness, my anxiety during moments of doubt, my certainty during moments of faith.

I will always remember you, and you will remember me, just as we will remember the evening, the rain on the windows, and all the things we’ll always have because we cannot possess them.

For many days, I wondered if that man really had existed, or of he was an angel sent by God to teach me the secret lessons of life. In the end, I decided that he had been a real man, a man who had loved me, even if only for an afternoon, and during that afternoon, he'd given me everything... his struggles, his joys, his difficulties, and his dreams. That afternoon I gave myself wholly as well--I was his companion, his audience, his lover. In a matter of only a few hours, I experienced the love of a lifetime.


Si puedes recordar me, siempre estare con tigo... 




27 November 2015

Her new character

She can trigger the hate inside her easily. There are plenty of open wounds. Many of them are drying off, but the tiniest disappointment can immediately tear the skin and exert pain, hatred.

Like when someone replies with the classic sorry-too-busy via whatsaap, when another person never replies to her emails or viber messages, whenever she feels not important. There is a lot of ego and need for affirmation going on inside her. 

She used to be someone whom people look up to, someone sparkling with achievements and initiatives, someone important. 

But now, she is not important.

Someone tells her that live is a theater play. So, she tries to understand live differently. She had this sparkling and important character before and now she is assigned a different character: a common person. Someone doing her daily routines, not famous, not a sparkling star. 

Like this flower... just be a flower, as flowers supposed to be.



She is getting used to her new character. 

In this new character, she meets other people who are "playing" the famous and important character she used to play. Sometimes she feels jealous, in pain, hatred, when interacting with those people. She still craves for compliments and affirmations. 

She wonders.... how can she better perform this layman character? How to be someone with no thirst for affirmation from others? How to be happy simply by doing regular day-in day-out routines?

She starts to identify other people who are assigned with this layman character and start listening to them. Many of them say that they are not lonely even when they are alone. Every now and then, quietly and modestly they celebrate their own achievements, they teach themselves to cherish that simple celebration. Yes, one can teach oneself and get used to it, just like a non vegetarian learns to be a vegetarian. 

She starts to admire this common person character.

Maybe one day she will be assigned to a different character. Or can she choose?


Un Sabado... en mi casita.

24 January 2014

Minum jus atau ... ?


Buah segar lebih sehat (dengan asumsi buahnya masih oke, misalnya tidak busuk karena mikroorganisme/kuman). Efek kesehatan dari buah-buahan datangnya bukan dari vitamin dan mineral saja, tetapi juga dari komponen bioaktif lainnya misalnya antioksidan dan juga serat alami.


Apakah perlu tetap dipertahankan konsumsi jus?

Minum jus dalam kemasan itu “handy/praktis” untuk orang-orang yang tidak suka makan buah. Lebih baik ada konsumsi jus dibanding tidak sama sekali.

Bagaimana dengan Claim 100%?

Claim 100%-nya itu extract juice. Mereka pake juice concentrate » Buah asli dimasak sampai jadi pure/pasta, lalu konsentratnya dibekukan & harus disimpan di freezer. Misalnya, produsen salah satu juice dalam kemasan pakai juice concentrate ini sebagai salah satu bahan baku sehingga bisa claim “100%.” Cara produksinya: Juice Concentrate + Air + Gula (jika ada) lalu dimasak + premix vitamin dan mineral, lalu dikemas.

Kalau beli jus dalam kemasan itu beli apa sebenarnya?

Jadi, dari sisi kesadaran konsumen, saat membeli produk jus dalam kemasan penting untuk disadari bahwa uang yang dipakai untuk beli produk jus tersebut tidak membeli kesehatan alami yang sebenarnya bisa diperoleh kalau sejumlah uang tersebut dialihkan ke buah segar. Uang tersebut hanya membeli "Jus konsentrat (ini adalah buah yang dimasak dengan pemanasan) + Air + Gula (umumnya gula buatan) + Vitamin dan Mineral buatan (premix)."

Vitamin dan mineral dari premix (serbuk buatan yang banyak dicampurkan ke jus kemasan), buah atau darimanapun tidak bisa dibedakan oleh tubuh - yang beda adalah kompleksitas saat makanan itu masuk sistem pencernaan. Ada semacam sinergi untuk penyerapan vitamin/mineral dalam tubuh. Misalnya vitamin C bersinergi dengan sejenis bioflavonoid, nah bioflavonoid ini adanya di Jeruk. Jadi vitamin C dari jeruk lebih gampang di-serap oleh tubuh, dibanding kalau vitamin C ini datangnya dari sumber lain yang tidak punya bioflavonoid tersebut.

Selama penyimpanan dan distribusi produk, vitamin dan mineral tersebut juga dapat berkurang kandungannya, misalnya karena kesalahan penanganan seperti di suhu terlalu panas atau dingin atau terlalu terkena ekspos cahaya.

01 March 2013

Another trip to the land of dreams

The second trip to the land of dreams took place on January 28th - February 9th, 2013
Good to be back! I love the feeling of coming back to a faraway place.
Something like re-reading a book. I am able to be more relax in absorbing the surrounding, more connected to the people because I don't have to focus that much on getting to the must-see places. Also, this time it is for a structured Learning Week @headquarters and to co-lead three dissemination events.
This time, I managed to strike a professional collaboration with my lovely aunt. Journalists from Voice of America (VoA) came to one of the dissemination event, including my aunt. Here's one of the Radio interviews talking about my trip to DC and one of the output that was disseminated (bantusekolahku web portal).
http://www.voaindonesia.com/audio/audio/256593.html
Until next trip then...

18 December 2012

Dear Jakarta,

I love you... I love you not... I love you... I love you not... I love you... I love you not...
My view, Dec 18th, 06:50 am.