08 October 2008

Sharing Paulo Coelho: Story of the Pencil

This lovely piece is taken from "Like the Flowing River" by Paulo Coelho (author of the Alchemist). It is shared because I highly believe in its relevance!



I hope you will be like this pencil when you grow up. It has five qualities which, if you manage to hang on to them, will make you a person who is always at peace with the world.



First quality: you are capable of great things, but you must never forget that there is a hand guiding your steps. We call that hand God, and He always guides us according to His will.

Second quality: now and then, I have to stop writing and use a sharpener. That makes the pencil suffer a little, but afterwards, he’s much sharper. So you, too, must learn to bear certain pains and sorrow, because they will make you a better person.

Third quality: the pencil always allows us to use an eraser to rub any mistakes. This means that correcting something we did is not necessarily a bad thing; it helps to keep us on the road to justice.

Fourth quality: what really matters in a pencil is not its wooden exterior, but the graphite inside. So always pay attention to what is happening inside you.

Finally, the pencil's fifth quality: it always leaves a mark. In just the same way, you should know that everything you do in life will leave a mark, so try to be conscious of that in your every action.


Thanks to http://www.eikongraphia.com/wordpress/wp-content/Pencil%20on%20pad%20of%20paper.jpg for the pencil picture.

07 October 2008

Knowledge®-branded Eyeglasses



My eyes are fine. Unfortunately, fine is not enough to value the above scene. A colleague, Indra Irnawan, was the one who wears the knowledge®-branded eyeglasses.

It was at the foot of Salak Mountain, Sukabumi-West Java. I went there with a group of 'very-fun-to-be-with' people. They are my 'we-fight-poverty-with-passion-and-professionalism' colleagues, the 'love-of-my-life' of my colleagues and a team of ‘trip consultant-assistant-cook’ from Sunburst Adventurindo. (www.sunburstadventure.com).

I took the above scene during my early-morning walk. At that time, my eyes were merely interested to capture the morning sunlight and the huge stone. My eyes weren’t wearing a pair of knowledge®-branded eyeglasses. I wasn't aware that the huge stone, the tall tree at its right side and the small stone under the tree altogether are a symbol… Yes, Scout! (in Bahasa Indonesia: Pramuka).

06 October 2008

Smart People

I spent a quarter of October 2 (2nd day of Idul Fitri) by watching movies.

There's an interesting line in the cover page of Smart People DVD: 'Sometimes the smartest people have the most to learn.'

The movie elaborates on people who are smart in hard skills (academic), but not getting good grades in soft skills (interpersonal relationship). Ellen Page smoothly played a friendless-overachiever high school student… Brilliant! No wonder she was titled Best Actress in MTV Movie Awards 2008 for her 'fresh' act in Juno.


In real life, we are all smart people. Smart in certain things and less smart in something else. Since we are smart we would like to learn about that something else wouldn't we?

In these pictures you can see some of (young) Smart People in my workplace, the 'we-fight-poverty-with-passion-and-professionalism' office. Each one of them helps me to learn my something else in various ways; through conversation, a helping hand or simply by being there in the office and sending the message that… it's possible!








People in the pics: Ari Perdana, Daniel Suryadarma, Rima Prama Artha, Berly Martawardaya, Siwage Dharma Negara ... thank you all!!

04 October 2008

Setelah 6 Tahun















Berbeda dengan jam di monumen Big Ben di Inggris (kiri), Jam Gadang (kanan) di Sumatera Barat-Indonesia menggunakan IIII untuk menyatakan angka 4-nya.


Masih sering mendengar ucapan-ucapan seperti ini? "Kalian duluan deh, nanti tungguin di lobi ya, aku beresin tas dulu…" "Jangan terburu-buru, pacarmu pasti mau menunggu…" "Bentar ya Ma, masih ditelepon nih…" Jika Kalian, Pacarmu, dan Ma digantikan oleh Sang WAKTU, jawabannya adalah tidak.

Tidak, sang waktu tidak menunggu. Dia akan terus maju, meskipun kita memohonnya untuk diam menunggu ataupun mundur kembali ke masa lalu. Dia akan terus maju, tidak peduli kita sedang malas atau rajin, gagal atau berhasil, sedih ataupun bahagia.

Dia sudah maju sebanyak 6 tahun. Enam tahun sejak kami lulus dari SMA Regina Pacis Bogor. Waktu yang cukup panjang. Cukup bagi anak kelas 1 SD untuk pindah ke jenjang sekolah menengah. Lalu, apakah kami sudah berpindah jenjang? Sudah dimanakah kami sekarang?

Sabtu pagi 13 September itu tiba dan setelah 6 tahun kami kembali bermain basket di GOR Pajajaran Bogor. Waktu memang tidak menunggu, hanya maju, tidak mundur, dan 6 tahun waktu yang cukup panjang. Namun, di Sabtu pagi itu, saat kami mengoper bola, berusaha memasukkan bola ke dalam ring, bercanda tawa, dan saling menatap… 6 tahun terasa seperti 6 hari yang lalu…




























"untuk Yanto (high flying '83), untuk janji mengabadikan Kisah Perbasketan I kita, dan untuk basket"

18 September 2008

Pulang Bertiga

Wanita hamil (besar) itu melangkah pasti menuju sang pria. Saling pandang sejenak, lalu diberikannya barang bawaannya kepada sang pria. Dipakainya jaket penutup tubuh, sapu tangan penutup hidung dan mulut. Disempatkannya merapikan rambut sejenak sebelum memakai helm pelindung kepala itu. Lalu, dilangkahkannya kakinya untuk duduk di belakang sang pria.

Sebagai orang yang tidak bisa mengendarai sepeda motor dan jarang menggunakan jasa ojek untuk jarak jauh, saya sangat khawatir melihat uraian di atas. Dengan motor, serasa tubuh kitalah yang melaju di jalan raya. Berbeda dengan naik kereta atau mobil, tubuh kita berada di suatu ruang tertutup yang melaju di jalan raya. Jika terjadi tabrakan, kulit tubuh kita yang bergesekan dengan jalan raya bukan ‘kulit’ mobil kita.

Ilustrasi di atas didukung oleh sebuah artikel di berita online AntaraNews. Pada tahun 2007, dari 3,522 kasus kecelakaan di jalan raya Jakarta, sebanyak 88% melibatkan sepeda motor dengan 719 korban tewas, 1,703 luka berat dan 2,454 luka ringan. Itu hanyalah yang tercatat…

Di sisi lain, menggunakan sepeda motor sangat membantu dalam melintasi jalanan Jakarta yang seringkali macet. Sepeda motor telah menjadi pahlawan bagi banyak orang dalam perjuangan pulang-pergi ke tempat kerja, berbisnis jual beli barang/jasa, mengantar pulang wanita pujaan hati, dan mudik ke kampung halaman saat Lebaran. Beberapa kalangan juga menganggap ‘pahlawan’ yang satu ini tidak sulit digapai; kredit dibuka pada harga 5 lembar uang seratus ribu rupiah. Tidak heran jutaan unit hilir mudik di kota Jakarta saja.

Arus pulang (kerja) di hari Jumat malam adalah yang paling deras. Malam itu, 29 Agustus 2008 bahkan lebih deras lagi, Jumat terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jumat malam itu, pasrah menanti bus Jakarta-Bogor ‘Danau Bogor Raya’ yang terlambat lebih dari 40 menit, kami bertiga (saya, Devi, dan Hendi) menyaksikan mereka bertiga (wanita hamil, sang pria, dan sang calon anak) melaju menjauhi perhentian sepeda motor di depan gedung Sampoerna Strategic , Jakarta Pusat.

07 September 2008

Tidak Bisa Baca



Saya heran. Tissue masih saja dibuang di Closet (untunglah saya belum pernah melihat Pembalut di closet). Padahal tulisan itu sudah tertempel di setiap bilik toilet di kantor.

Ketidakpedulian yang sangat besar. Begitulah yang umumnya terjadi pada sarana-sarana publik. Atau.... Ataukah karena tulisan itu tertulis dalam Bahasa Indonesia?

Pekerja di kantor ini multi-bangsa dan kemungkinan mereka tidak bisa baca (tulisan itu). Jika mereka mengerti Bahasa Inggris, maka yang dipahami hanya Tissue dan Closet. Mungkin karena itulah saya masih menemukan Tissue di Closet :)


------In English (untuk menghindari ketidak-bisaan baca)------

Writings in the picture above: PLEASE DON'T THROW TISSUE AND SANITARY NAPKIN IN THE CLOSET

I am disappointed. I still find waste Tissue in the Closet. Gladly, I haven't found Sanitary Napkin in the closet. Whereas, that writings have been patched in every single toilet door in the office.

Such a huge ignorance. That's what usually happens to public facilities. Or.... Or is it because that writings is in Bahasa Indonesia?

Employees in this office are coming from various countries and most probably they can't read (that writings). If they understand English, then they can only read Tissue and Closet. Maybe that's why I still find Tissue in the Closet :)

01 September 2008

Ruang Neni Lestari

Kala aku bercerita tentang tempat kerjaku, Bank Dunia, aku tak lupa mengatakan ada seorang sahabat bernama Mba Neni. Ada juga tim nonton bareng dan duduk bareng (di masa-masa awal yang penuh perjuangan itu)--Aku, Mba Neni, dan Mas Mul (Mulyadi Subali).

Mas Mul pun menjadi penasehat dan 'dokter' IT aku dan Mba Neni, Mas Mul-lah yang berulang kali menyelamatkan laptop kami, terjemahan bahasa inggris kami, dan memeriahkan kebersamaan kami dengan candanya yang tak pernah kering.

Salah satu kesamaan aku dan Mba Neni adalah ragu untuk mulai menulis (apakah Mas Mul juga?). Ruang ini dipersembahkan untuk Mba Neni. Monggo mba, tuangkanlah berbagai hal yang kau lihat dari 'kacamatamu'.... How's your day??

...
...
...